Profil Singkat
- Ayah: 40 tahun (Pemilik Toko Klontong)
- Ibu: 32 tahun (Ibu Rumah Tangga)
- 1 anak usia 8 tahun
- Tinggal di Tangerang
- Penghasilan keluarga: Rp18 juta per bulan
- Memiliki BPJS aktif
"Kami Rasa Sudah Aman"
Ketika pertama kali berdiskusi, Pak Andi (nama samaran) terlihat cukup tenang.
Ia dan keluarganya sudah memiliki BPJS yang aktif selama bertahun-tahun.
Menurutnya, jika suatu hari ada masalah kesehatan, biaya rumah sakit sudah memiliki solusi.
"Kalau soal berobat, saya rasa aman. Kami sudah punya BPJS."
Jawaban tersebut terdengar masuk akal.
Dan sebenarnya juga benar.
BPJS memang memberikan perlindungan kesehatan yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia.
Namun ada satu pertanyaan yang kemudian muncul.
Pertanyaan Yang Mengubah Diskusi
Saya bertanya:
"Jika Bapak harus berhenti bekerja selama satu tahun karena sakit, bagaimana kondisi keuangan keluarga?"
Beliau terdiam beberapa saat. Kemudian menjawab:
"Saya belum pernah menghitungnya."
Dan ternyata itulah titik awal munculnya sebuah Financial Bug.
Ketika Risiko Tidak Berhenti Di Rumah Sakit
Selama ini fokus keluarga hanya pada biaya pengobatan.
Padahal ketika pencari nafkah mengalami sakit serius, sering kali ada risiko lain yang muncul secara bersamaan.
Misalnya:
- Penghasilan berhenti sementara.
- Cicilan rumah tetap berjalan.
- Biaya sekolah anak tetap harus dibayar.
- Kebutuhan sehari-hari tetap ada.
Rumah sakit mungkin ditanggung dengan menggunakan BPJS.
Tetapi kehidupan keluarga tetap membutuhkan biaya setiap bulan.
Simulasi Sederhana
Penghasilan keluarga:
Rp18 juta per bulan
Pengeluaran rutin:
- Cicilan rumah: Rp4 juta
- Pendidikan anak: Rp 2 juta
- Kebutuhan rumah tangga: Rp7 juta
- Tabungan: Rp 2 juta
- Lain-lain: Rp3 juta
Total kebutuhan:
Rp18 juta per bulan
Jika pencari nafkah tidak dapat bekerja selama 12 bulan:
Berapa penghasilan yang masih masuk?
Jawabannya:
Hampir tidak ada.
Dan inilah risiko yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan.